14/09/13

CINTA DIMENSI SEMU #KaryaTemen

Author : Novi Risqa Amelia ( @Rizuka_SNF )

“Riri bangun !!” tangis Ayu disamping tempat tidur sahabatnya yang tergolek lemah.

Aneh memang,berkali-kali dokter memeriksa kondisi tubuh Riri dan dokter selalu menyatakan bahwa tak ada kesalahan apapun pada fisik Riri. Tak ada penyakit apapun. Namun, pada kenyataannya sudah 7 hari Riri sama sekali tak terbangun dari tidurnya. Seperti orang mati.

Orangtua Riri pun bingung kenapa hal semacam ini bisa terjadi. Karena seingat mereka Riri tak pernah mengidap penyakit berbahaya apapun. Dan beberapa hari sebelum Riri memulai tidur panjangnya pun ia tak menunjukkan gejala sakit apapun. Hanya saja, sebelum ia memulai tidur panjangnya, Riri tampak begitu pilu. Yang dilakukannya hanya diam dan tiba-tiba menangis. Seperti  seseorang yang kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Dia melakukan aktivitasnya dengan normal seperti biasa. Namun pandangannya selalu kosong. Dan di sela-sela pandangan kosong itu  selalu diiringi dengan tangis. Dengan air mata yang tiba-tiba melepaskan diri begitu saja.

Di hari ke-7 ini, mata Riri tertutup nampak begitu tenang. Begitu sejuk. Seolah-olah dia menemukan sebuah kedamaian. Sesekali bibir mungilnya terlihat menyiratkan sebuah senyuman walaupun tak satu suara pun keluar. Hal ini menyebabkan Ayu dan kedua orangtua Riri semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi.

Hari mulai beranjak sore, Ayu berpamitan pada kedua orangtua Riri untuk segera pulang karena orangtuanya pasti khawatir jika ia pulang terlambat.
“Om,Tante, Ayu pamit pulang dulu. Besok Ayu pasti kesini lagi” pamit Ayu.
“Oh iya, terimakasih nak Ayu sudah mau menemani Riri.” Balas ibu Riri.
Sebelum benar-benar pulang, Ayu mengecup kening Riri dan membisikkan sesuatu pada sahabatnya yang tertidur pulas itu.
“Jika kau tak bisa menceritakan apa yang terjadi padamu disini, aku harap kau mau datang ke mimpiku dan katakan apa yang terjadi padamu, sahabat~.” Bisik Ayu.
Benar saja, seolah mendengar bisikan Ayu, Riri benar-benar muncul di dalam mimpi Ayu pada malam harinya. Namun di dalam mimpi pun Riri hanya diam dan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
“Riri !!” panggil Ayu.
Riri hanya menoleh dan tersenyum pada Ayu sambil tetap terduduk dibawah pohon tempatnya berteduh. Ayu  pun mendekati Riri.
“Dimana ini,Ri?? Tempat apa ini?? Tempat ini begitu indah.”
Namun tetap saja Riri hanya diam dan tersenyum. Lalu Ayu pun ikut duduk di samping Riri dan ikut terbenam memandangi pemandangan yang begitu indah di tempt itu. Tempat itu memang begitu indah. Sebuah bukit hijau dihiasi dengan beberapa kelompok bunga penuh warna di beberapa titik, langit senja yang begitu cerah dengan efek  shocking pink sky, suara ombak berdeburan, lautan yang biru, dan tak tertinggal pula sebuah pohon beringin besar yang rindang. Pohon yang melambangkan sebuah kedamaian. Ya, tempat itu mereka terduduk sekarang.
“Ri, kenapa kau disini??Apa tempat ini menyenangkan??Kau suka disini?? ”
Tetap saja Riri memberikan jawaban hanya dengan sebuah senyuman yang penuh dengan teka-teki. Sudah cukup lama mereka berdua terduduk menikmati pemandangan disana.
“Ri,kita sudah lama disini. Ayo kita pulang!!” ajak Ayu.
Namun Riri menolak. Ia tersenyum dan menggelengkan kepala. Tiba-tiba Riri berdiri dan meninggalkan Ayu. Ia berjalan menuju sekumpulan bunga krisan putih lalu kemudian menghilang begitu saya.
“Ri !! Riri !! Jangan pergi !!” teriak Ayu.
Tiba-tiba ayu terbangun dan menyadari bahwa semua itu hanya mimpi.

Keesokan harinya Ayu datang ke rumah Riri saat sepulang sekolah. Ayu menceritakan mengenaimimpinya kepada kedua orangtua Riri. Dan entah kenapa Ibu Riri memiliki suatu firasat tentang mimpi Ayu. Seketika itu juga orang tua Riri memanggil ‘seorang pintar’ . Kyai,paranormal,cenayang,atau apapun itu namanya. Seorang tersebut bernama Pak Subur *JENG JENG JENG O.O *. Sesaat kemudian Pak Subur datang, lalu Ibu Riri menceritakan tentang mimpi Ayu pada Pak Subur. Pak subur diam dan manggut-manggut. Pak Subur beranjak menuju ke tempat dimana Riri terbaring. Dengan mulut berkomat-kamit dan entah mantra apa yang dibacanya, Pak subur mengarahkan kedua tangannya beberapa centimeter diatas kepala dan dada Riri. Setelah beberapa saat, Pak Subur membuka matanya lalu mengtakan bahwa Riri tak ingin pulang. Dia bahagia disana, dia tak merasakan rasa sakit hati disana, ia mendapatkan cinta yang indah disana.
“Nak Ayu, apa benar anda mengajak Riri pulang tapi ia menolak ??”
“i..iya pak.” Jawab Ayu.

“Kenapa, pak?” tanya orangtua Riri bersamaan.
“Nak Ayu dan Nak Riri adalah sahabat. Tentu mereka saling menyayangi. Seharusnya Nak Ayu bisa membawa Nak Riri pulang.” Jelas Pak Subur.
 DEGG!! Ayu terdiam. Ia merasa lemas.
“Atau mungkin...” lanjut Pak Subur.
“Mungkin apa, Pak??” sela Ayu.
“Mungkin ada seseorang yang lebih disayangi oleh Nak Riri melebihi Nak Ayu atau apapun dan siapapun.”
“Angga !! Pasti Angga !!” batin Ayu.

Keesokan harinya Ayu pergi menemui Angga. Ayu sangat yakin bahwa orang yang sangat disayangi Riri adalah Angga. Orang yang sangat disayangi oleh Riri melebihi apapun dan siapapun adalah Angga. Dan lagi, jika ditelik lebih dalam, Riri mulai menjadi linglung setelah ia dan Angga mengakhiri hubungan mereka. Ayu menunggu Angga di kafe ‘Lotus’.
“Yu !!” panggil Angga dari kejauhan.
“Hey, silahkan duduk.”
“Ada apa?? Tumben ngajak ketemu??”
Lalu Ayu menceritakan pada Angga tentang semua yang terjadi pada Riri. Tentang tertidurnya Riri,tentang mimpi Ayu, dan juga tentang yang dikatakan Pak Subur. Angga terdiam. Seperti ada beribu petir menyambar tepat ke arah dadanya. Begitu sakit. Begitu pilu. Orang yang disayanginya mengalami hal seperti ini. Tentu saja Angga sangat menyayangi Riri. Sangat menyayanginya melebihi rasa sayangnya terhadap dirinya sendiri. Dan alasan kenapa mereka berpisah pun sangat rumit. Mereka berpisah walaupun mereka tak ingin. Karena mungkin memang harus seperti itu alurnya.

Angga dan Ayu bergegas menuju ke rumah Riri. Tak disangka ternyata Pak Subur juga berada disana. Angga langsung menuju kamar Riri. Didekatinya sosok yang sangat disayanginya itu dengan perlahan. Dibelainya rambut Riri dengan lembut. Dan butiran bening itu jatuh begitu saja dari pelupuk mata Angga. Angga mengalihkan pandangannya pada Pak Subur.
“Pak, tak adakah yang bisa kita lakukan agar Riri terbangun??” tanya Angga.
“Kita tidak bisa, tapi sepertinya Nak Angga bisa.”
“Saya??” angga kaget.
“iya, sepertinya Nak Angga lah orang yang sangat disayangi oleh Nak Riri.” Ujar Pak Subur.
“Bagaimana caranya,Pak??”
“Nak Angga harus berada di tempat yang sama dengan Nak Riri.”
“Jadi??”
“Jadi saya akan mengantar Nak Angga kesana. Namun itu jika Nak Angga berkenan.”
“Lakukan, Pak!! Tapi apa itu akan lama??”
“Tergantung. Tergantung sekuat apa Nak Angga bertekat dan bertahan untuk berusaha membawa Nak Riri pulang.”
“Baiklah,Pak. Tolong antar saya kesana.”

Sebelum ritual dimulai, Angga terlebih dulu menghubungi orangtuanya dan mengatakan bahwa ia akan pergi ke luar kota untuk beberapa waktu untuk sebuah urusan. Hal itu dilakukan agar orangtuanya tidak khawatir.

Ritual pun dimulai. Pak Subur meminta Angga berbaring tepat disamping Riri yang tertidur panjang. Angga menarik nafas panjang dan menutup mata. Dalam hatinya ia  berjanji bahwa ia akan membawa Riri pulang walau bagaimanapun itu caranya. Pak Subur pun mulai membaca mantranya.
            ** ** ** ** **
Angga berada di tempat yang sama sekali tak dikenalnya. Asing, benar-benar asing. Namun, tempat itu sangat indah. Tak pernah ia mengunjungi tempat seindah itu sebelumnya.

Ia mendengar suara nyanyian. Suara  seorang gadis. Suara itu menyenandungkan sebuah lagu yang sangat dikenalnya.
Sarang sarang sarang deullyeooneun bissori. Dugeun dugeun dugeun tteollyeooneun nae gaseum. Sarang sarang sarang dugeun dugeun, usansori bissori nae gaseum sori. Sarangbi~ga naeryeo onaeyo. I love rain i love you.” Syair itulah yang disenandungkan oleh suara tersebut.

Angga mulai melangkah mendekati asal suara itu dengan perlahan. Namun, tanpa menoleh pada Angga, sosok si empunya suara itu berjalan berlalu meninggalkan tempat dimana semula dimana ia bersenandung. Ya, sosok itu adalah sosok Riri. Sosok yang dicari oleh Angga. Riri tampak sangat cantik terbalut dalam mini dress se-lutut berwarna biru muda dilengkapi dengan hig heels berwarna senada dan rambutnya yang tergerai bebas. Riri nampak sangat anggun namun tak meninggalkan karakter asli dirinya yang chic,ceria, dan lincah. Riri menoleh pada Angga dengan pandangan penuh tanya.
“Siapa orang ini ??” batin Riri.
Ya, Riri tak mengenal siapa Angga. Karena ini adalh dunia Riri. Dunia yang ia ciptakan sendiri. Dunia dimana ia bisa melakukan apapun dan semua ia kendalikan sendirinya. Karena ia lah penciptanya. Ya, ini dunianya. Dunia fantasinya. Dunia khayalannya.

Tentu saja ia tak mengenal Angga. Karena dari awal ia menciptakan dunia ini adalah dengan tujuaan untuk meninggalkan orang-orang di masa lalunya dan menemui orang-orang baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya. Dan Angga bukanlah termasuk tokoh yang ada di dunia Riri. Seperti halnya Ayu. Oleh karena itu Riri tak mengenal mereka.
            ** *** ** ** **
Riri berjalan menuju sebuah rumah kayu sederhana. Rumah itu begitu mungil dan asri. Riri berjalan dengan santainya. Dan tentu saja Angga membuntutinya. Di teras rumah itu Tedy sudah menunggu Riri. Tedy, ia adalah sosok yang sangat disayangi oleh Riri. Pastinya di dunia Riri. Dan di dunia Riri, Tedy tak pernah sekalipun menyakiti Riri. Riri datang, Tedy pun memeluknya dengan hangat. Angga tersentak kaget.
“ Siapa  pria itu ?” batin Angga.
Riri dan Tedy berlalu masuk ke dalam rumah. Pikiran Angga kalut. Ada banyak tanya yang tiba-tiba muncul di kepalanya. Siapa pria itu ?? Ada apa dengan mereka ?? Kenapa mereka disini ?? Dan banyak tanya tanya lainnya yang berkecamuk di pikirannya.

Ada sebuah rumah di sebelah rumah tempat Riri dan Teddy masuk tadi. Angga beranjak dari tempatnya terpaku dan berjalan menuju rumah itu. Angga mendekati pintu,
            “Permisi !! Ada orang?!!”
Namun tak ada jawaban. Angga melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah dengan ragu. Benar saja, tak ada seorang pun di dalam rumah itu. Perabotan di rumah itu lengkap. Hanya saja, semuanya adalah perabotan tua. Meja, kursi, tv, dan benda-benda lainnya begitu klasik. Begitu kuno. Ada dua buah tempat tidur kecil disana yang berjajar tak berjauhan. Angga mendekati salah satu tempat tidur itu dan membaringkan tubuhnya. Hingga akhirnya dia terlelap.
            ********
Angga mencium aroma masakan yang begitu sedap dan membuatnya terbangun dari tidurnya. Ia bangkit dan berjalan mengikuti aroma masakan itu berasal. Seorang nenek ada disana. Beliau tampak sibuk dengan pisau dan beberapa sayuran yang sedang dipotong-potongnya. Beliau menyadari kehadiran Angga dan menoleh,
            “ Kau sudah bangun?? Apa kau sudah lapar?? “
Angga hanya terdiam.
            “ Duduklah. Kau makanlah dulu.” Nenek itu mempersilahkan Angga duduk dan membawakannya beberapa makanan yang sudah ia masak. Nenek tua itu duduk di depan Angga.
            “ Aku tau kau akan datang.” Ucap nenek tua itu.
Angga kaget dan memandang nenek tua itu dengan penuh tanya.
            “ Sudahlah, kita makan dulu. Kau pasti lapar. Nanti saja kita bicara.”

Setelah makan, nenek tua itu menceritakan tentang semua yang ada disini. Semua hal yang ada di dunia Riri.
            “ Lalu, pria itu siapa , nek??”
            “ Dia Teddy. Disini,tedy adalah kekasih Riri. Kekasih yang tak pernah sekalipun melukai hati Riri. Seperti yang selalu diharapkan Riri. Dan akhirnya, terciptalah sosok Teddy disini. Di dunia milik Riri.”
            “ Tapi nek, bukankah dunia ini semu?? Semua yang ada disini, Teddy, dan maaf  mungkin nenek juga semu. Tidak nyata.”
            “ Tentu saja aku mengerti. Dan bukankah kau datang kesini juga karena ingin membangunkan Riri dari dunianya??”
            “ Iya, nenek benar.“
            “ Tentu saja kau harus. Karena dunia ini semu. Dan tempat riri bukanlah disini. Ini tak akan baik untuknya. Karena dunia ini hanya angan.’
            “ Tunggu, bagaimana nenek bisa tahu tentang semua ini?? Dan juga bagaiman nenek bisa tau tentang aku??”
            “ Karena Tuhan mengijinkan ku untuk tahu.” Jawab nenek tua itu dengan tersenyum.
            “ Lalu apa yang harus saya lakukan, nek ??”
            “ Hanya nak Angga yang tau nak Angga harus berbuat apa. Riri tak akan mengenalmu disini. Karena pada dasarnya kau tak pernah ada di dunia yang ia ciptakan ini.”
Angga semakin tak mengerti harus berbuat apa. Ia hanya diam.
“ Mungkin cinta nak Angga yang bisa membawanya pulang.” Ujar sang nenek sambil berlalu.
            ********
Disaat Angga disibukkan oleh teka-teki yang dihadapinya, Riri datang.
            “ Permisi !! Nenek Uti ada??”
Angga terkejut dan bangkit dari tempat ia duduk,
            “ Nenek Uti siapa, Ri??”
Riri memandan Angga dengan tatapan bingung. Angga pun tersadar, tentu saja nenek Uti adalah nenek pemilik rumah rumah yang ia tumpangi saat ini.
            “ Ahhh dasar bodoh !” Angga merutuki dirinya sendiri.
            “ ahh, iya nenek Uti ada. Silahkan masauk. Ri !!”
            “ Kamu mengenalku??” tanya Riri.
Angga gelagapan. Bagaiman ia bisa lupa kalau Riri tak mungkin mengenalinya disini.
            “ I... iya tentu saja. Nenek menceritakan tentang tetangga-tetangga disini.” Jawab Angga sekenanya.
Nenek Uti muncul, Angga bernapas lega merasa tyerselamatkan dengan kemunculan nenek Uti. Jadi ia tak harus meladeni pertanyaan-pertanyaan Riri yang sudah pasti akan membuatnya semakin  bingung harus menjawab apa. Nenek uti mempersilahkan Riri duduk dan memperkenalkan Angga sebagai cucunya yang datang dari tempat yang jauh. Ya, tentu saja. Angga memang datang dari tempat yang  jauh. Sangat-sangat jauh. Bahkan dari dimensi yang berbeda hanya dengan tujuan untuk bisa membawa Riri pulang. Membawa seseorang yang sangat disayanginya pulang dan kembali bersamanya.”
            *********
Ini sudah hari ke-3 Angga berada di Dunia Riri. Namun ia masih bingung tentang apa yang harus dilakukannya untuk bisa membawa Riri pulang. Hari ini Angga berencana berkunjung ke rumah Riri. Ya, rumah Riri di dalam Dunia Riri.
            “ Permisi !!” Angga mengetuk pintu rumah Riri. Riri membuka pintu dan tersenyum. Ia mempersilahkan Angga masuk. Angga terkejut saat melihat Teddy ada di dalam sana. Sebagai seorang pria, tentu saja ia merasa cemburu melihat orang yang sangat disayanginya bersama orang lain. Bersama pria lain.
Angga duduk mematung. Ia bingung harus mengatakan apa. Disamping itu, ia juga sedang terbakar api cemburu melihat dua sosok yang ada di depannya saat ini. Seperti ada ledakan api di dalam dadanya. Begitu panas, begitu membakar. Sesaat kemudian Teddy berpamitan dengan alasan ada urusan yang harus ia selesaikan. Aneh, dari ekspresi wajah Teddy ia tak menunjukkan adanya ekspresi marah atau terganggu atas kedatangan Angga yang jelas-jelas mengganggu waktu bersamanya dengan Riri. Malah Teddy terkesan seolah memberikan kesampatan pada Angga untuk mendekati Riri.
Sepeninggal Teddy, mulailah obrolan-obrolan ringan muncul diantara Angga dan Riri. Yahh satu poin plus untuk Angga. Hari mulai sore. Angga pun berpamitan pulang.
            **********
Hari ke 5
Angga semakin dekat dengan Riri. Beberapa hari terakhir mereka tampak sering bersama. Riri, ia mulai terlihat nyaman dengan kehadiran Angga. Ia mulai merasakan debar-debar di dada saat ia sedang bersama dengan Angga. Mulai merasa rindu dan kosong saat Angga tak ada disisinya. Mulai merasa khawatir saat Angga tak datang menemuinya. Dan rasa-rasa hati yang tak bisa dijelaskan dengan ungkapan lainnya. Seperti itulah yang ia rasakan. Entah apa itu namanya. Cinta ?? Ya, mungkin itu dia. Mungkin Riri memang jatuh cinta. Jatuh cinta pada sosok  Angga. Sosok yang baru dikenalnya di “Dunianya” dan mampu menumbuhkan banyak rasa-rasa aneh di hatinya. Lalu bagaimana dengan Teddy?? Riri sangat menyayangi Teddy.
Teddy adalah seorang kekasih yang selalu bisa membuatnya tersenyum dan tak pernah menyakitinya walau hanya untuk sekali waktu saja. Seseorang yang tampan, lembut, dewasa, selalu penuh perhatian, dan faktor-faktor lainnya yang membuatnya terlihat begitu sempurna di mata Riri. Tentu saja sangat sesuai dengan apa yang selalu didambakan oleh Riri. Tertanam di otak Riri, berkembang di bilik hatinya, dan terproyeksi langsung di alam imajinasainya. Tentu saja ada di dunia ini, karena angan Riri sudah memprogramnya untuk ada. Ada di “Dunia Riri”.
Beberapa hari ini Tedy menghilang. Ia selalu punya beribu alasan untuk m,enghindari Riri. Ya, tentu saja semenjak kemunculan Angga disini. Di “Dunia Riri”. Teddy seolah menghilangkan dirinya sendiri. Entah karena alasan apa.
            “Ri, kamu kenapa??” tanya Angga.
            “ Engg... engga gapapa.”
            “ Kamu gak suka ya kalo aku disini??”
Riri tersentak kaget dengan pertanyaan Angga. Pertanyaan yang begitu umum namun entah kenapa Riri merasa seperti ada sengatan listrik yang menyerang tubuhnya saat Angga menanyakan hal itu.
            “ Kamu ini ngomong apa sih, Ngga?? Tentu saja aku senang kau ada disini bersamaku. Aku senang kau hadir hidupku. Aku merasa nyaman dengan kehadiranmu di setiap hariku. Ini konyol, aku baru mengenalmu tapi aku merasa kalau kita sudah cukup lama mengenal satu sama lain.” Cerocos Riri.
Angga terdiam.
            “ Apa kau percaya dengan adanya reinkarnasi??” tanya Riri.
            “ Ke.. kenapa memangnya??”
            “ Ahhh tidak, jangan-jangan kita memang saling sudah saling mengenal di kehidupan sebelumnya. Jadi walaupun saat ini aku baru saja mengenalmu, tapi aku sudah merasa sangat deakat denganmu. Mungkinkah itu ??”
Angga kembali terdiam.
            “ Tidak, Ri. Kamu salah. Kita memang saling mengenal. Kita sangat dekat. Kita bahkan saling menyayangi. Tapi tidak di kehidupan sebelumnya. Tidak pula disini. Tapi disana, di dunia kita, Ri. Di dunia dimana semuanya bukanlah rekaan angan semata. Dimana semuanya adalah kenyataan yang harus kita hadapi dan tak mungkin kita hindari. Dunia kita, Ri !! Dunia kita !!” batin angga pilu.
            ***********
Hari ke-7
Angga duduk melamun di teras rumah Nenek Uti. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas, semua lamunan dan pikirannya tertuju pada satu objek yaitu Riri.
            “Nak Angga!” sapa Nek Uti lembut
            “. . . . . . . . . “
            “ Nak Angga??!”
            “ I... iya, Nek. Ada apa?”
            “ Apa yang kau pikirkan?”
            “ Emmm.. anu, itu, tidak ada,Nek.”
            “ Nak!!”
            “ Iya, Nek?”
            “ Apa nak Angga sadar sudah berapa lama kamu ada disini??”
            “ Kenapa, Nek?? Nenek merasa terusik dengan kehadiranku di rumah neenek?? Ahh. . . aku minta maaf, Nek. Jika nenek merasa terganggu atas kehadiranku disini, aku akan pergi.” Ujar Angga merasa tak enak.
            “ Tidak. Bukan itu, Nak. Tak sadarkah kau kalau ini sudah hari ke-7 kau berada disini??”
            “ Memangnya kenap, Nek??”
            “ Waktu mu tak banyak lagi. Jika sampai hari ke-13 kau tak bisa membawa Riri pulang, maka kau takkan pernah bisa membawanya pulang.” Ujar Nek Uti.
            “ Ma. . . maksud nenek??”
             “ Iya. Jika kau tak berhasil sampai pada hari ke-13 itu, maka dia tak kan pernah kembali ke dunia kalian.”
DEGGG !!! JEGERRR !!!
Petir itu menyambar tepat di dadanya(lagi). Tak hanya sekali.tapi berkali-kali. Serangan yang datang secara bertubi-tubi tanpa jeda. Bagaimana mungkin petir-petir itu tak menyambar dadanya setelah ia mengetahui bahwa orrang yang sangat disayanginya akan mati jika ia tak berhasil membawanya kembali ke dunia mereka.
            ************
Hari ke-9
Seperti biasanya Angga tetap rajin mengunjungi Riri. Ditambah lagi dengan aksi aneh Teddy yang tiba-tiba jadi sering menghilang. Angga jadi merasa memiliki banyak kesempatan untuk mendekati Riri jika Teddy sering menghilang seperti ini.
Tapi Riri, ia mulai sadar akan perubahan sikap Teddy yang tiba-tiba jadi sering menghilang. Ia semakin tak mengerti, biasanya Teddy selalu muncul setiap hari. Bahkan tanpa dipinta oleh riri sekalipun. Teddy selalu muncul dan selalu berhasil membuat riri tersenyum walaupun ia tak melakukan suatu hal yang konyol ataupun istimewa. Kehadiran dan perhatian yang diberikan Teddy sudah sangat berhasil mengembangkan senyuman di bibir mungil Riri. Tawa-tawa riang Riri tak pernah habis saat ia sedang bersama Teddy. Teddy  selalu menciptakan kebahagiaan Riri. Karena  Teddy selalu menjadi alasan bagi kebahagiaan Riri.
       “ Ri, kamu baik-baik saja?” Angga memecahkan lamunan Riri.
       “ Ehh. . . i . . iya aku baik-baik saja.”
       “ Apa yang kamu pikirkan?”
       “ . . . . . . . .”
       “Ri ??!!”
       “ Emm kamu ngrasa gak sih kalo akhir-akhir ini Teddy sering ngilang??”
       “ Ternyata benar. Di pikiranmu Cuma ada Teddy.” Batin Angga
       “ Iya kan, Ngga?? Aku heran kenapa dia tiba-tiba kayak gini. Seingatku kami tak memiliki permasalahan apapun. Kenapa dia tiba-tiba menghilang?? Apa dia gak sadar kalo aku sangat merindukannya?? Iya ,Ngga. AKU SANGAT MERINDUKANNYA.”
Angga terdiam. Ia tak tau harus bagaimana  menaggapi perkataan Riri barusan. Dadanya terasa panas. Sesak, sangat sesak. Orang yang sangat disayanginya merindukan orang lain. Oang lain. Bukan dirinya, tapi orang lain.
* * * * * * * * * * * *
Hari ke-11
Riri berencana menemui Teddy hari ini. Ia ingin mengetahui apa alasan yng membuat Teddy tiba-tiba menghilang. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia ingin tahu apa yang menyebabkan Teddy seolah-olah menghindarinya.
Teddy duduk di tepi sungai di dekat rumahnya. Sungai yang jernih dan beraliran kecil. Beraliran kecil namun dapat menghasilkan suara gemericik yang ditimbulkan oleh dentaman antara aliran air dan batu-batu kecil yang ada di sekitarnya. Suara yang begitu menenangkan. Ditambah lagi dengan suara merdu beberapa pohon kenari yang asik hinggap di ranting pohon Ara yang terletak tak jauh dari sungai mungil itu. Ahhhh benar-benar alam yang indah!!!
Teddy duduk sendirian menikmati indahnya suasan alam yang tersuguh pagi itu. Tentu saja saja sambil menikmati pikirann-pikirannya sendiri. Rumitan –rumitan yang muncul dikarenakan dia hanya seorang “Makhluk Angan”.
            “Teddy !!”
Teddy menoleh dan memberikan sebuah senyuman.
            “ Kamu kemana aja?? Kenapa akhir-akhir ini kamu gak pernah nemuin aku?? Kamu gak tau ya kalo aku kangen banget sama kamu??!! ” Riri merengut.
            “ . . . . . . . . .’
            “Teddy !”
            “ Sepertinya dia sangat menyayangimu. Menurutku dia juga seorang pria yang baik.” Ujar Teddy.
            “ Ma . . . maksud kamu??”
            “ Aku bisa liat dari tatapan matanya ke kamu. Tatapannya beda. Dia benar-benar menyayangimu.”
            “ Maksud kamu Angga?? Jadi kamu tiba-tiba ngilang kayak gini gara-gara Angga?? Jadi semua ini karena Angga??”
            “ Aku bisa melihat kebahagiaan yang nyata. Dan itu semua bisa kamu dapetin dari dia, Ri.”
            “ Aku gak peduli !! Kalau Angga penyebabnya, mulai sekarang aku gak akan temui dia lagi !! Aku syang sama kamu, Tedd!!”
              Tapi, Ri. Aku . . . aku cuma . . .”
            “ AKU GAK PERDULI !!!”
Riri pergi meninggalkan Teddy dengan perasaan tak karuan. Ia tak mau mendengar kelanjutan ucapan Teddy.
            “ Aku cuma khayalanmu, Ri. Aku gak nyata.” Desah Teddy
* * * * * * * * * * * * *
Hari ke-12
Angga berkunjung ke rumah Riri. Ia merasa khawatir karena kemarin ia tak dapat menemui Riri sama sekali.
            “ Pagi,Ri !” sapa Angga saat pintu telah dibukakan oleh Riri.
            “ Ada apa?? Ngapain kesini??”
Angga kaget. Kenapa Riri mendadak bersikap dingin seperti ini?? Apa yang terjadi?? Angga hanya bisa membatin.
            “ Kamu baik-baik saja?? Apa kamu sakit??”
            “ Apa peduli mu??” jawab Riri ketus.
            “ Ka. . . kamu kenapa, Ri?? Apa aku sudah melakukan sebuah klesalahan??”
            “IYA !! Kamu benar-benar sudah melakukan kesalahan besar. SANGAT BESAR!! Kamu tau apa kesalahanmu?!”  bentak Riri.
            “ A. . apa, Ri??”
            “ Kesalahan terbesarmu adalah kamu udah muncul di hidup aku !! Kamu tau kenapa Teddy tiba-tiba menghilang?? Alasannya itu kamu !! Karena kamu muncul disini !!” Riri tak bisa mengontrol emosinya.
Rangga terdiam. Kakinya mulai lemas. Hatinya hancur.
            “ Mulai sekarang mending kamu gak usah muncul lagi !! Enyah dari hidupku !! Awalnya kita tak saling mengenal, tak saling bertemu. Dan aku harap kita bisa kembali seperti itu !! Tak saling kenal dan tak saling bertemu !!”.Riri membanting pintu rumahnya. Entahlah, Riri merasa sangat sakit harus mengatakan itu semua pada Angga. Karena tak bisa dipungkiri, Angga telah mendapatkan tempat khusus di hati Riri. Riri pun hanya bisa menangis setelah mengatakan semua itu pada Angga. Ia sedih. Sangat sedih. Tapi mau bagaimana lagi ?? Riri tak mau kehilangan Teddy. Ia tak pernah mau. Begitu pula dengan Angga. Sebenarnya Riri juga tak mau kehilangan Angga. Tapi, Teddy telah lebih dulu berada dihatinya. Bukan, tapi di dunianya. Ia sendiri yang membawanya. Riri sendiri yang membuat Teddy ada di dunianya tanpa ia sadari.
Angga pulang ke rumah Nenek Uti dengan lemas. Ia duduk di teras dengan pandangan kosong. Mamang. Pikirannya melayang. Ia putus asa. Ia tak bisa membawa Riri pulang. Dan ia tak kan pernah bisa. Apa yang harus dikatakannya pada orangtua Riri nanti?? Ia gagal?? Ia tak bisa menyelamatkan Riri?? Riri akan mati?? Entahlah, pikirannya begitu kalut. Ia tak bisa membayangkan bahwa ia akan mendapati Riri telah mati saat ia terbangun nanti. Sanggupkah Angga??
            “ Nak Angga kau baik-baik saja?” suara Nek Uti membuyarkan lamunan Angga. Angga bangkit dan langsung memeluk Nenek Uti.
            “ Aku gagal, Nek. Aku tak bisa membawa Riri pulang. Aku tak bisa menyelamatkannya. Aku tak kan pernah bisa.”
Nenek Uti terdiam. Beliau membimbing Angga untuk duduk. Lalu Angga menceritakan semua yang telah terjadi pada hari itu pada Nenek Uti.
            “ Nak Angga, apa kau percaya pada keajaiban??”
            “ . . . . . . . . . .”
            “ Saat ini yang bisa kau lakukan hanyalah berdo’a dan menunggu keajaiban itu datang.” Ujar Nek Uti
            “ Jika kau meyakininya, maka kemungkinan keajaiban itu datang akan lebih besar.” Tambah Nek Uti
            “ Semoga saja yang nenek katakan itu benar.” Batin Angga
* * *  * * * * *
Hari ke-13 (final)
Dengan wajah lesu dan putus asa Angga berpamitan pada Nek Uti.
            “ Nek, terimakasih nenek sudah mengizinkan ku tinggal disini, membantuku, dan mendengar keluh kesah ku. Walau pun dunia ini semu, tapi aku merasa kalau nenek benar-benar nyata. Terimakasih, Nek.” Ujar Angga.
            “ Iya, sama-sama. Apa kau masih mempercayai adanya keajaiban?”
Angga terdiam. Disaat seperti ini ia merasa bahwa tak ada gunanya lagi percaya ;pada keajaiban. Namun di dalam hati kecilnya, ia sangat mengharapkan keajaiban kitu akan bebar-benar datang kepadanya.
            “ Aku pergi, Nek. Selamat tinggal.”

Angga melangkahkan kakinya dari rumah Nek Uti. Ia berjalan menuju bukit. Bukit dimana ia dan Riri bertemu untuk pertama kalinya disini. Di ‘Dunia Riri’. Disanalah pintu itu akan terbuka. Pintu pembatas antara dunia nyata dan ‘Dunia Riri’. Pintu yang akan membawanya kembali ke kehidupan nyata.
Angga sudah tiba di bukit. Tapi pintu itu belum menampakkan dirinya. Dengan hatinya yang masih tak karu-karuan karena tak berhasil membawa Riri pulang, ia duduk di bawah pohon beringin. Pohon sang lambang kedamaian. Angga duduk disana menunggu pintu itu terbuka.
            ** ** ** ** **
            “Teddy !!” Riri menghampiri Teddy.
            “ Kau tak bersama Angga?”
            “Tidak !! Aku tak ingin bertemu dengannya lagi !!”
            “ Kenapa kamu lakukan itu??”
            “Dan kenapa kamu tanyakan itu??” Riri tak mau kalah.
            “ Riri, kamu akan bahagia bersamanya.” Ujar Teddy
            “ Tidak !! Aku sudah cukup bahagia bersamamu. Aku tak butuh kebahagiaan yang lain !!”
            “Tidak, Ri. Aku tak akan pernah bisa membuatmu bahagia.”
            “ Ke. . kenapa, Tedd??”
            “ Karena aku tak nyata, Ri !! Aku tak ada !! Aku hanya khayalan. Khyayalan yang kau ciptakan sendiri.”
Riri terdiam. Ia bingung. Ia tak mengerti. Benarkah semua itu?? Benarkah Teddy hanya khayalan?? Apa itu berarti dunia yang ia tempati hanyalah dunia semu?? Entahlah. Butiran bening itu menetes dari kelopak mata Riri. Mewakili rasa tak mengerti, sedih, amarah, dan rasa-rasa hati lain yang bercampur menjadi satu di bilik dalam dadanya.
            “Karena aku tak nyata. Maka kebahagiaan yang ku berikan padamu pun tak akan nyata, Ri. Angga lah yang bisa memberikan mu kebahagiaan yang nyata. Dan jangan kau pungkiri bahwa kau juga sangat menyayanginya, Ri. Pergilah bersamanya !”
Tanpa mengeluarkan suara apapun Riri  langsung bangkit dan berlari. Entah mengapa ia mendengar sebuah suara yang mengatakan bahwa ia harus menemukan Angga. Darimana suara itu berasal? Dari dalam hatinya. Ia berlari sekencang mungkin menuju rumah Nenek Uti.
            “Nek, Angga ada?” tanya Riri tak sabar.
            “Bukit.” Nek Uti menjawab sembari tersenyum.
Tanpa ba bi bu Riri langsung berlari menuju bukit. Tapi naas, sesampainya disana ia tak menemukan sosok Angga. Riri terduduk lemas di antara bunga krisan putih yang ada disekitar bukit itu. Matanya semakin nanar, air matanya berjatuhan tanpa meminta izin. Sedih, sakit. Eperti ada bagian yang hilang dari hati Riri. Riri berdiri dan berbalik arah bersiap pergi. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Tiba-tiba mia mendengar suara. Suara nyanyian sebuah lagu yang sangat di kenalnya.
Sarang sarang sarang deullyeooneun bissori. Dugeun dugeun dugeun tteollyeooneun nae gaseum. Sarang sarang sarang dugeun dugeun, usansori bissori nae gaseum sori. Sarangbi~ga naeryeo onaeyo. I love rain i love you.”
Riri menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan mencoba mencari asal suar itu. Ia tau suara itu berasal dari bilik pohon beringin. Beringin sang pelambang kedamaian. Ia berlari ke arah pohon beringin tersebut.
            “ Angga !!”
            “ Riri !!” Angga bangkit dari temapt ia duduk. Riri langsung berhambur memeluk Angga dengan erat.
            “ Aku menyayangimu Angga!!”
            “ Aku juga, Ri. Aku lebih sangat menyayangimu.” Angga membalas pelukan Riri.
            “Nek Uti, keajaiban itu benar-benar datang.” Batin Angga sambil tersenyum.
              Kamu mau kemana?? Apa kamu mau meninggalkanku karena ucapanku kemarin??”
            “ Tentu tidak, Ri. Aku sangat menyayangimu. Aku tak mungkin meninggalkanmu disini.”
            “ Bagus. Tapi apa maksudmu??”
            “ Ri, bukankah aku sudah bilang kalau aku sangat menyayangimu??”
            “ Iyya.” Riri mengangguk.
            “ jadi, mau kah kau ikut bersamaku??’
            “ Kemana?” tanya Riri heran.
            “ . . . . . . . .” Angga hanya diam menunggu jawaban Riri sambil menatap mata Riri dalam.
            “Tentu aku mau. Kemanapun kamu pergi, aku akan ikut denganmu.” Jawab Riri sambil membalas tatapan mata Angga.
Angga tersenyum bahagia. Lebih bahagia dari siapapun juga.

Pintu itu pun terbuka. Pintu pembatas itu sudah terbuka. Angga menggenggam erat jemari Riri dan membimbing Riri melewati pintu itu. Pintu yang akan mengantarkan mereka kembali ke dunia nyata dan meninggalkan “Dunia Riri”. Dunia khayalan Riri.

            ** ** ** ** ** **
Angga terbangun. Orang-orang yang ada di kamar Riri memandangnya dengan pandangan penuh harap. Tak lama kemudian Riri pun bangun. Ia bangun dari tidur panjangnya. Semua orang di ruangan itu tersenyum penuh kebahagiaan saat Riri bangun.
            “ Kenapa kalian semua ada di kamarku??” tanya Riri bingung.
Semua hanya diam dan tersenyum penuh rasa haru dan bahagia.
            “ Kamu juga, Ngga. Kenapa kamu bisa ada disini??”
Angga tak menjawab pertanyaan Riri dan langsung memeluknya. Riri semakin heran dengan sikap aneh orang-orang disekitarnya.
            “ Oiya, tadi aku mimpiin kamu, Ngga. Aneh banget sekarang kamu ada disini tepat disaat aku mimpiin kamu.”
            “ Oya?? Mimpi kayak gimana emangnya??” tanya Angga pura-pura tak mengerti.
Lalu Riri menceritakan tentang hal yang dianggapnya sebagai mimpi kepada semua orang yang ada di kamarnya.
            “ Ohhh itu berarti kamu lagi kangen pake banget sama aku.” celetuk Angga iseng.
            “ Dihhh kamu Ge-eR pake banget dehh.” Riri menjulurkan lidahnya mengejek Angga.

Semua orang yang berada di kamar Riri pun tertawa. Tawa penuh kegembiraan atas kembalinya Riri. Begitu pula dengan Angga. Ia sangat bahagia karena berhasil membawa gadis yang sangat disayanginya kembali untuk bersamanya. Disini, di dunia nyata. Bukan fantasi. Bukan dunia khayalan~


Novi Risqa @pacet

Posting Komentar